Cara Budidaya Cabe Agar Berbuah Lebat

Cabe merah keriting adalah salah satu komoditi pertanian yang paling banyak diminati. Dengan cita rasa pedas, cabe sudah menjadi jenis bumbu wajib masyarakat Indonesia. Dikenal sebagai tanaman semusim, cabai bisa tumbuh hampir di semua tempat, tapi untuk hasil yang optimal, ada jenis cabe untuk dataran rendah dan dataran tinggi.

Namun seperti yang Sahabat Pak Tani tahu, budidaya cabe memang tidak terlalu mudah. Berbagai faktor seperti cuaca yang tidak menentu, tingkat keasaman tanah hingga serangan hama penyakit bisa mempengaruhi hasil budidaya tanaman satu ini.

Berikut ini mari kita simak bersama, seperti apa cara budidaya cabe agar berbuah lebat?

A. PERSIAPAN LAHAN, BIBIT, DAN PROSES TANAM CABE

1.Persiapan Lahan & Bibit Cabe Keriting

Mulai siapkan lahan dari 30 hari sebelum tanam, perhatikan lahan yang akan ditanami, termasuk dataran tinggi atau dataran rendah. Kemudian, sesuaikan dengan jenis bibit cabe yang dipilih. Pastikan kembali bahwa lahan yang akan dipakai juga bukan bekas tanaman cabe atau family cabe lainnya, seperti tomat, terong, takokak, dan kentang.

Media Tanam Klasmann

Penyemaian terhadap bibit cabe sendiri dapat dilakukan dengan media polybag agar benih-benih cabe keriting bisa lebih diatur dan tidak saling berhimpit sehingga dapat tumbuh dengan baik. Untuk kualitas yang lebih baik, bisa gunakan media tanam Klasmann dalam pembibitan. Media tanam Klasmann lebih praktis karena siap pakai, kualitas media juga sudah seragam, bebas dari biji gulma dan memiliki pH optimum, serta kemampuan mengikat hara dan air yang tinggi. Kemudian siramlah nursery tersebut secara rutin setiap harinya, hingga berumur 21 sampai 24 hari, saat bibit cabe sudah siap untuk dipindahtanamkan. Bisa juga dengan melihat pertumbuhan daun yang berjumlah 3 sampai 4 helai.  

Agar saat pindah tanam bibit cabe tidak mengalami stress berlebihan, lakukan langkah berikut ini pada  pesemaian/nursery bibit cabe:

  1. Semprotkan NeoKristalon Hijau 1 gr/L sebanyak 2x yaitu waktu bibit umur 15 hari setelah semai dan 5 hari sebelum pindah tanam/tranplanting dengan tujuan mengurangi “stress” saat bibit dipindah tanam.
  2. Semprotkan Pentacur 1 cc/L sebanyak 2x juga yaitu bibit umur 10 hari setelah semai dan 5 hari sebelum pindah tanam dengan tujuan menghindari rebah layu (pythium).

2.Pengolahan Lahan

Lahan yang bagus untuk budidaya cabe adalah tanah yang porositasnya baik dan gembur. Cangkul tanah terlebih dahulu dengan kedalaman 20 sampai 40 cm. Bersihkan tanah dari sisa-sisa tanaman, gulma, maupun bebatuan. Kemudian buatlah bedengan dengan tinggi 30 sampai 40 cm dan lebar 1 meter. Jarak setiap bedengan sekitar 60 cm. pH tanah yang bagus untuk budidaya cabe adalah sekitar 6 sampai 7. Jika terlalu asam (rendah) pertumbuhan cabe akan terhambat. Selain itu, tanah yang terlalu asam mudah ditumbuhi oleh ilalang.

3.Proses Penanaman Cabe

Saat memindahkan bibit yang sudah siap, sobeklah polybag, kemudian pindahkan ke lahan yang sudah disiapkan pada pagi/sore hari. Usahakan media semai jangan sampai rusak atau pecah. Kemudian siram supaya kelembabannya masih terjaga.

B. PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN TANAMAN CABE

Mengingat tanaman cabe cukup rentan terserang hama dan penyakit, jangan lupa untuk selalu periksa pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabe tersebut. Berikut ini petunjuk pemupukan berimbang yang dapat menghindarkan tanaman cabe dari serangan OPT:

1.Pemupukan

1. Gunakan Fertiphos/Saprodap, ditabur 7 hari sebelum tanam,  dengan dosis 200 – 300 kg/ha.

2. Pemupukan pada umur 10, 25 dan 40 HST, larutkan CPN dengan konsentrasi 2 kg/drum 200 L dicampur dengan NPK 16-16-16 Pak Tani atau Magnum dengan konsentrasi 3 kg/drum.  Siramkan +/- 200 ml larutan tersebut ke tiap pokok tanaman cabe Anda. 

3. Lakukan pemupukan di fase generatif dengan komposisi sebagai berikut:

  • NPK 16-16-16 Pak Tani dengan konsentrasi 3 kg/drum dan PNP dengan konsentrasi 2 kg/drum, dikocor pada umur 50, 70 dan 90 HST. 
  • MKP Pak Tani dengan konsentrasi 3 gr/lt disemprot pada umur 45 dan 75 HST. 
  • CNG dengan konsentrasi 3 gr/lt disemprotkan pada umur 60 dan 90 HST. 
Infografis Budidaya Cabe

2.Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Cabe

Langkah preventif pada pengendalian hama penyakit tanaman cabe, selain menerapkan pola pemupukan yang berimbang di atas, adalah dengan melakukan sanitasi lahan dari gulma secara berkala.  Bila serangan OPT sudah parah, gunakan pestisida sesuai petunjuk berikut ini:

  • Gunakan Jordan 5 GR  dengan dosis 10 kg/ha untuk mencegah hama ulat tanah di awal masa tanam.
  • Gunakan Starmek 18EC dengan konsentrasi 1 – 2 ml/lt sebagai upaya pengendalian hama ulat buah, thrips ataupun mite. Untuk thrips dan mite, Sahabat Pak Tani juga bisa menggunakan Avimax 120 EC dengan konsentrasi 0,5 – 1 ml/lt.
  • Untuk pengendalian antraknosa, gunakan Torbinol 480 SC dengan konsentrasi 1 ml/lt ditambah Manteb 80 WP dengan konsentrasi 2 gr/lt.
Paket Lengkap Pupuk dan Pestisida Cabe

…HINGGA TIBA SAATNYA PANEN!

Rawat terus tanaman cabe Sahabat Pak Tani hingga panen. Jangka waktu panen cabe sendiri berbeda-beda sesuai dengan varietas bibit yang digunakan, kondisi tanah dan iklim. Rata-rata berkisar antara 75-85 hari atau saat kematangan buah berada pada kisaran 80-90%. 

Panenlah pada pagi hari, petik hingga tangkainya, untuk menjaga usia tanaman lebih panjang. Simpanlah cabe keriting di tempat yang terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan air hujan. Semoga sukses ya budidaya cabenya, Sahabat Pak Tani!

Kembali Ke Cerita
Bagikan Artikel Ini
Share to FacebookShare to TwitterShare to WhatsappCopy Link

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *